BCA

BCA Syariah Catat Laba Bersih Rp212 Miliar di 2025 Didukung Kinerja Pembiayaan dan Aset Tumbuh Signifikan

BCA Syariah Catat Laba Bersih Rp212 Miliar di 2025 Didukung Kinerja Pembiayaan dan Aset Tumbuh Signifikan
BCA Syariah Catat Laba Bersih Rp212 Miliar di 2025 Didukung Kinerja Pembiayaan dan Aset Tumbuh Signifikan

JAKARTA - PT Bank BCA Syariah mencatatkan kinerja positif sepanjang tahun 2025 dengan membukukan laba bersih sebesar Rp212 miliar, meningkat dibandingkan periode sebelumnya dan menunjukkan tren pertumbuhan yang solid dalam berbagai indikator kinerja keuangan perusahaan.

Laba Bersih dan Pertumbuhan Pembiayaan

Selama 2025, BCA Syariah berhasil mencatat laba sebelum pajak sebesar Rp258,4 miliar, naik sekitar 13 persen secara tahunan dibandingkan tahun sebelumnya. Setelah dikurangi pajak, laba bersih perseroan tumbuh 15,4 persen menjadi Rp212 miliar, memberi gambaran bahwa bank syariah ini terus memperkuat profitabilitasnya di tengah persaingan sektor perbankan syariah Indonesia.

Direktur BCA Syariah, Pranata, menyampaikan bahwa pertumbuhan laba tersebut banyak ditopang oleh peningkatan pendapatan dari penyaluran pembiayaan serta aktivitas treasury perseroan. “Laba kita sebelum pajak di angka Rp258 miliar, kemudian laba setelah pajak Rp212 miliar,” ujar Pranata dalam konferensi pers di Jakarta pada konferensi pers 10 Februari 2026.

Penyaluran pembiayaan menjadi salah satu mesin utama yang mendorong pertumbuhan laba tersebut. Sepanjang 2025, BCA Syariah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp13,2 triliun, atau naik 23 persen secara year-on-year (yoy) dibandingkan dengan Rp10,7 triliun pada 2024. Kenaikan pembiayaan terbesar berasal dari segmen komersial, dengan peningkatan pencairan mencapai 35 persen.

Aset dan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang Menguat

Selain dari sisi profitabilitas, BCA Syariah juga berhasil memperkuat struktur asetnya. Total aset perseroan pada akhir tahun 2025 mencapai sekitar Rp19,2 triliun, tumbuh 15 persen yoy dari posisi tahun sebelumnya sebesar Rp16,6 triliun. Pertumbuhan aset ini mencerminkan ekspansi bisnis dan optimalisasi fungsi pembiayaan yang dilakukan secara berkesinambungan oleh manajemen.

Sumber pertumbuhan aset tersebut salah satunya adalah kontribusi dari Dana Pihak Ketiga (DPK) yang juga meningkat signifikan sepanjang 2025. BCA Syariah berhasil menghimpun DPK sebesar Rp15,4 triliun, tumbuh sekitar 17 persen yoy dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan dana pihak ketiga tersebut mendukung kemampuan bank dalam menyalurkan pembiayaan serta menjaga likuiditas secara sehat.

Pranata menambahkan bahwa pertumbuhan DPK Bank Syariah ini didorong oleh peningkatan produk giro yang mencatat pertumbuhan hingga sekitar 43 persen. Hal ini menunjukkan minat nasabah terhadap layanan perbankan syariah yang makin meningkat, termasuk pilihan produk simpanan yang ditawarkan oleh BCA Syariah.

Pendapatan dari Treasury dan Manajemen Risiko

Aktivitas treasury juga memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan laba BCA Syariah sepanjang 2025. Pendapatan dari sektor ini meningkat seiring dengan manajemen likuiditas dan investasi yang lebih efektif di tengah kondisi pasar yang dinamis. Meski detail angka untuk masing-masing sumber pendapatan tidak diungkap sepenuhnya di publikasi ini, kombinasi antara pendapatan pembiayaan dan treasury menjadi pendorong utama kenaikan laba bersih perusahaan.

Selain itu, strategi manajemen risiko yang prudent membantu BCA Syariah dalam menjaga kualitas portofolio pembiayaan. Meskipun ekspansi pembiayaan cukup agresif, bank ini mampu mempertahankan rasio pembiayaan bermasalah (non-performing financing/NPF) di tingkat yang sehat, yang merupakan salah satu indikasi penting kualitas aset dalam perbankan syariah.

Peran Digitalisasi dan Produk Inovatif

Selain ekspansi pembiayaan dan perbaikan struktur aset, BCA Syariah juga terus memperkuat kanal digitalnya sebagai bagian dari strategi untuk meningkatkan pengalaman nasabah dan memperluas penetrasi pasar. Misalnya, pengembangan fitur layanan mobile banking dan internet banking menjadi salah satu fokus implementasi teknologi yang dapat menjangkau lebih banyak nasabah, termasuk segmen UMKM dan konsumer.

Dalam beberapa publikasi lain di media, disebutkan bahwa berbagai fitur tambahan seperti pembayaran zakat, QRIS, serta pembiayaan emas juga diperkenalkan atau diperluas fungsinya untuk memperkuat daya saing BCA Syariah di pasar finansial syariah Indonesia. Hal ini sejalan dengan tren digitalisasi dalam industri jasa keuangan yang semakin cepat dan dinamis.

Prospek dan Tantangan Sektor Syariah

Pertumbuhan kinerja BCA Syariah sepanjang 2025 tidak lepas dari tren positif di sektor perbankan syariah secara umum, yang terus mencatat peningkatan minat dari masyarakat terhadap produk perbankan syariah. Hal ini terlihat dari pertumbuhan pembiayaan, penghimpunan DPK, dan peningkatan total aset yang konsisten. Di sisi lain, persaingan antar bank syariah juga semakin ketat, sehingga inovasi produk, efisiensi operasional, dan manajemen risiko menjadi aspek penting yang menentukan keberlanjutan pertumbuhan.

Dengan kinerja yang solid di 2025, BCA Syariah berharap dapat memperkuat posisi di pasar perbankan syariah Indonesia serta mendukung inklusi keuangan syariah secara lebih luas di tahun-tahun mendatang. Perusahaan terus berupaya meningkatkan kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi nasional melalui layanan pembiayaan yang produktif dan penghimpunan dana yang efisien.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index