JAKARTA - Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memperluas pengujian biodiesel campuran B50 ke sektor pertambangan, perkeretaapian, kelautan, serta pembangkit listrik dan genset sebagai bagian dari strategi persiapan implementasi bahan bakar rendah emisi tersebut secara lebih luas pada tahun 2026. Langkah ini tidak hanya melihat dari sisi kendaraan bermotor, tetapi juga mesin-mesin berat serta fasilitas energi besar untuk memastikan kesiapan operasional dan kinerja mesin di berbagai kondisi penggunaan energi berat.
Pertambangan dan Operasi Alat Berat sebagai Fokus Utama
Pengujian B50 di sektor pertambangan kini menjadi salah satu fokus utama pemerintah. Pengujian ini difokuskan pada operasi alat berat dengan beban kerja tinggi — kondisi di mana bahan bakar diuji dalam tekanan dan siklus kerja ekstrem untuk melihat bagaimana campuran biodiesel berperforma di lingkungan kerja menantang serta berkelanjutan.
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, mengungkapkan bahwa uji B50 tidak lagi terbatas pada kendaraan bermotor, tetapi sudah meluas ke sektor pertambangan di Kalimantan. Ia menambahkan, pengujian untuk sektor perkeretaapian tengah dipersiapkan dan dijadwalkan setelah masa libur Lebaran.
Pendekatan ini penting karena sektor pertambangan merupakan pengguna energi besar yang mengandalkan mesin-mesin berat dalam operasinya. Penggunaan B50 di sektor ini akan menguji daya tahan bahan bakar saat mesin dipacu pada beban tinggi secara berulang dalam jangka waktu panjang — sesuatu yang tidak bisa sepenuhnya dicermati hanya dengan uji jalan kendaraan.
Uji di Kereta Api, Kelautan, dan Pembangkit Listrik
Tidak hanya pertambangan, perkeretaapian Indonesia juga akan menjadi arena pengujian berikutnya. Meskipun jadwal pastinya masih menunggu setelah libur panjang, rencana pengujian ini menunjukkan pemerintah ingin melihat bagaimana B50 berfungsi di sektor transportasi massal yang memiliki pola penggunaan intensif dan jadwal operasi padat.
Sektor kelautan juga menjadi target uji B50, di mana kapal-kapal akan menjalani uji statis untuk memastikan performa mesin saat bahan bakar digunakan dalam kondisi operasi laut yang khas. Pada aspek ini, uji statis menjadi penting untuk mengetahui respon mesin terhadap campuran biodiesel saat tidak sedang berada di tanjakan atau beban berat seperti di darat, tetapi dalam lingkungan laut yang memiliki kondisi lain seperti korosi, getaran, serta variasi beban mesin.
Untuk sektor ketenagalistrikan, pemeriksaan dilakukan pada genset dan pembangkit listrik yang digunakan sebagai sumber energi utama dalam berbagai fasilitas industri maupun publik. Pembangkit listrik diuji untuk menilai stabilitas pasokan energi dan efisiensi operasionalnya saat menggunakan B50. Hal ini penting karena pembangkit listrik harus berjalan terus-menerus, dan campuran bahan bakar baru perlu menunjukkan keandalan dalam kondisi stabil dan beban tinggi secara terus menerus.
Metode Uji Beragam dan Penilaian Komprehensif
Metode pengujian B50 di berbagai sektor ini menggunakan pendekatan yang beragam — mulai dari pengujian dalam operasi nyata alat berat, hingga uji statis di laboratorium atau fasilitas uji khusus seperti Badan Geologi dan Lemigas. Misalnya, kapal yang diuji di laut melakukan uji statis di Badan Geologi, sementara genset dan power plant diuji statis di lembaga uji Lemigas.
Pendekatan ini menggabungkan data dari banyak kondisi operasional berbeda. Dengan demikian, hasil pengujian dianggap lebih komprehensif dan memberikan gambaran luas mengenai performa B50 di sektor-sektor yang memiliki tuntutan kerja berbeda. Selain itu, hasil dari uji lintas sektor ini akan dijadikan sebagai bahan evaluasi dalam pengambilan keputusan kebijakan terkait implementasi B50 secara bertahap dan berkelanjutan.
Hasil evaluasi ini nantinya akan dikompilasi oleh pemerintah sebagai bahan penilaian sebelum kebijakan B50 diterapkan lebih luas di masyarakat dan sektor industri. Pemerintah juga menegaskan akan membuat keputusan berbasis data sehingga penerapan B50 bisa dilakukan secara aman, terukur, serta memperhatikan keseluruhan aspek teknis dan operasional dari berbagai sektor.
Dampak Kebijakan dan Tantangan di Depan Mata
Langkah memperluas uji B50 ini juga berkaitan dengan target pemerintah untuk menerapkan B50 secara menyeluruh di Indonesia pada semester kedua 2026 — sebuah target yang sudah sering dikonfirmasi oleh pejabat pemerintah. Pemerintah melihat masa uji coba lintas sektor ini sebagai fase penting untuk memastikan bahwa mesin-mesin berbahan bakar B50 dapat bekerja dengan lancar dan aman di berbagai kondisi operasi.
Selain itu, pemerintah berharap implementasi B50 akan membantu Indonesia dalam mencapai ketahanan energi nasional serta mengurangi ketergantungan pada impor solar, sebagaimana disebutkan oleh Menteri Energi dalam berbagai forum pada tahun lalu.
Namun, proses ini juga tidak tanpa tantangan. Pihak industri dan pengamat sebelumnya mengulas bahwa implementasi B50 dapat menimbulkan tantangan tertentu — baik dari sisi kesiapan infrastruktur, pasokan bahan baku biodiesel seperti crude palm oil (CPO), maupun potensi dampaknya terhadap harga dan logistik sektor energi secara keseluruhan. Tiap tantangan ini perlu ditangani agar kebijakan B50 yang direncanakan dapat terealisasi sesuai target pemerintah.
Dengan seluruh rangkaian uji yang dilakukan, pemerintah optimis bahwa langkah yang lebih matang dan evaluatif ini akan membantu transisi Indonesia menuju penggunaan bahan bakar yang lebih berkelanjutan dan mendukung agenda energi nasional dalam jangka panjang.