PERBANKAN

Inklusivitas Sebagai Pilar Utama Perbankan: Menyatukan ESG dan Peran Sosial Bank BTN

Inklusivitas Sebagai Pilar Utama Perbankan: Menyatukan ESG dan Peran Sosial Bank BTN

JAKARTA - Dalam upaya memperkukuh strategi bisnis perbankan yang berorientasi pada keberlanjutan, inklusi sosial kini menjadi panduan penting dalam kerangka Environmental, Social, and Governance (ESG). PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) menunjukkan bagaimana prinsip ini diintegrasikan secara nyata melalui kegiatan yang melibatkan masyarakat luas, tidak sekadar dalam layanan finansial, namun juga dalam gerakan sosial yang mengangkat partisipasi semua kalangan, termasuk penyandang disabilitas.

Di tengah dinamika perbankan modern, di mana aspek lingkungan dan tata kelola sering mendapatkan sorotan kuat, pendekatan sosial — terutama inklusivitas — menjadi jembatan yang menghubungkan tujuan bisnis dengan dampak nyata di masyarakat. BTN mencontohkan hal tersebut melalui acara spesial yang dirancang bukan untuk keuntungan semata, tetapi juga untuk memperkuat kesadaran serta keterlibatan publik dalam gerakan yang lebih besar.

Inklusivitas dalam Aksi Nyata: BTN Run for Disabilities
Sebagai bentuk konkret komitmen terhadap inklusivitas, BTN menyelenggarakan acara “BTN Run for Disabilities, Run for Inclusivity” di Stadion Manahan, Solo. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Road to BTN Jakarta International Marathon (BTN Jakim) 2026, yang tidak hanya mengundang pelari profesional atau masyarakat umum, tetapi secara khusus mengajak serta atlet penyandang disabilitas dalam satu garis start bersama.

Direktur Risk & Management BTN, Setiyo Wibowo, menekankan bahwa pandangan ESG di BTN lebih dari sekadar tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). “Kami ingin menegaskan peran BTN yang tidak hanya berfokus pada pembiayaan perumahan, tetapi juga konsisten mendorong kesehatan, inklusivitas, dan kesejahteraan masyarakat Indonesia,” ujarnya dalam keterangan tertulis. Pernyataan ini mempertegas bahwa ESG bukan hanya kerangka normatif, melainkan penuntun dalam setiap aspek kegiatan bisnis dan sosial perseroan.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa inklusivitas dapat menjadi motor penggerak perubahan, khususnya ketika dilibatkan melalui kegiatan yang mendorong partisipasi aktif seluruh lapisan masyarakat. Dengan menyediakan ruang yang setara dalam kegiatan olahraga, BTN menempatkan inklusi sebagai bagian organik dari strategi bisnisnya — tidak terpisahkan dari nilai-nilai ESG yang dicanangkan.

Meningkatkan Kesadaran Melalui Kebersamaan
Momentum lari bersama ini juga dimanfaatkan untuk memperluas kesadaran publik terhadap pentingnya aktivitas fisik, khususnya bagi penyandang disabilitas. Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, menyatakan harapannya bahwa acara seperti ini mampu merubah cara pandang masyarakat terhadap olahraga dan kesehatan. Menurutnya, kurangnya aktivitas fisik merupakan salah satu penyebab utama masalah kesehatan di Indonesia, dan olahraga yang inklusif seperti lari adalah cara sederhana namun efektif untuk meningkatkan kesadaran tersebut.

Budi menggarisbawahi bahwa lari merupakan olahraga yang murah, mudah diakses, dan dapat dilakukan oleh semua kalangan — termasuk mereka yang memiliki keterbatasan fisik. Dengan partisipasi para penyandang disabilitas pada acara ini, harapannya masyarakat luas dapat melihat secara langsung bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk bergerak dan berpartisipasi dalam kegiatan bersama.

Tanggapan Pemimpin Daerah dan Organisasi Disabilitas
Respons positif juga datang dari Wali Kota Surakarta, Respati Ardi, yang mengapresiasi inisiatif BTN dalam membuka ruang nyata bagi atlet disabilitas. Ia menyatakan bahwa dukungan sistem terhadap para atlet bukan hanya soal fasilitas, tetapi juga soal lingkungan sosial dan masa depan mereka setelah menjadi atlet. Ardi berharap kegiatan seperti ini dapat menguatkan peran Solo sebagai kota yang ramah dan inklusif.

Selain itu, Wakil Sekretaris Jenderal NPC Indonesia, Rima Febianto, juga melihat acara “BTN Run for Disabilities” sebagai sebuah kesempatan strategis untuk meningkatkan kesadaran dan dukungan terhadap olahraga bagi penyandang disabilitas. Ia menilai bahwa keterlibatan aktif peserta disabilitas dalam kegiatan berskala nasional mampu membuka peluang lebih besar bagi pengembangan potensi mereka dan memperkuat ekosistem olahraga yang inklusif di Indonesia.

Menghubungkan ESG dengan Nilai Sosial dan Ekonomi
Pendekatan yang diambil BTN dengan menggabungkan ESG dan inklusivitas sejatinya selaras dengan tren perbankan global dan domestik yang makin menempatkan ESG sebagai bagian tak terpisahkan dari strategi korporasi. ESG tidak lagi dipandang sebagai kewajiban pelaporan, tetapi sebagai fondasi nilai jangka panjang yang membentuk reputasi, kepercayaan publik, dan kesinambungan operasional lembaga keuangan.

Dengan menjadikan inklusivitas sosial sebagai bagian dari kerangka ESG, BTN menunjukkan bahwa peran bank tidak hanya terbatas pada pencapaian target finansial. Lebih dari itu, bank dipandang sebagai institusi yang bertanggung jawab terhadap perkembangan sosial dan pemberdayaan komunitas — terutama kelompok yang sering kali kurang terwakili dalam kegiatan ekonomi dan sosial mainstream.

ESG Lebih dari Sekadar Konsep
Kegiatan “BTN Run for Disabilities, Run for Inclusivity” memberikan gambaran jelas bahwa inklusivitas adalah salah satu jalan efektif untuk menghidupkan prinsip ESG secara nyata. Ketika inklusivitas diangkat bukan hanya sebagai slogan, tetapi dijalankan melalui aksi yang melibatkan masyarakat secara langsung, maka ESG akan mampu menciptakan dampak yang lebih luas — tidak hanya untuk bisnis perbankan, tetapi juga untuk tatanan sosial yang lebih berkeadilan dan berkelanjutan.

Melalui aksi ini, BTN tidak hanya membuktikan komitmennya terhadap ESG, tetapi juga menegaskan bahwa bank modern harus mampu menjembatani tujuan ekonomi dengan kepentingan sosial yang lebih luas — sebuah langkah yang penting dalam membangun masa depan perbankan yang inklusif dan berkelanjutan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index