B2B Infrastruktur Telkom Cetak Rp33,1 Triliun, Melonjak 19% YoY

B2B Infrastruktur Telkom Cetak Rp33,1 Triliun, Melonjak 19% YoY
Pilar B2B Infrastruktur Telkom (TLKM) Tembus Rp33,1 Triliun di 1H2026 [FOTO: NET].

JAKARTA — PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) mengukir performa solid pada segmen Business-to-Business (B2B) Infrastructure sepanjang paruh pertama semester I/2026. Lini bisnis ini sukses mengantongi total pendapatan sebesar Rp33,1 triliun, atau melonjak 19% disandingkan dengan periode yang sama tahun lalu (year-on-year/YoY).

Direktur Utama Telkom Dian Siswarini mengutarakan bahwa laju pertumbuhan segmen B2B Infrastructure dipicu oleh melesatnya performa pada lini Data, Internet, dan IT Service, seiring tingginya dorongan kebutuhan transformasi digital skala korporasi.

“Pertumbuhan terutama didorong oleh peningkatan pendapatan Data, Internet, dan IT Service,” ujar Dian dalam keterangan resminya, Minggu (2/8/2026).

Menilik pilar bisnis menara telekomunikasi dan Fiber-to-the-Tower (FTTT), unit anak usaha Telkom, PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk. 

(MTEL) alias Mitratel, mencatatkan nilai perolehan pendapatan Rp4,7 triliun atau naik 2,1% YoY. Sektor Tower-Related Business masih bertindak sebagai penopang utama pendapatan Mitratel.

Secara operasional, akumulasi penyewa (tenant) meningkat 4,9% YoY menjadi 63.866 tenant, sehingga mampu mengerek rasio penyewaan (tenancy ratio) menara menuju level 1,57x.

Pada segmen data center, Telkom terus memperkuat perannya sebagai penyedia infrastruktur digital regional lewat NeutraDC. Perseroan mempercepat inisiatif konsolidasi guna memposisikan NeutraDC sebagai pengelola terpusat atas seluruh portofolio aset data center milik TelkomGroup.

Langkah strategis ini mencakup pengelolaan aset gabungan antara PT Telkom Data Ekosistem (TDE), PT Teknologi Data Infrastruktur (TDI), dan NeutraDC Singapore yang nilai keseluruhannya menembus Rp14,66 triliun per 30 Juni 2026.

Dalam skema konsolidasi tersebut, TDI menuntaskan penambahan modal saham baru. TDE menyetorkan dana Rp462 miliar, sementara mitra strategis Nxera ID Pte. Ltd. menginjeksikan Rp270 miliar demi memegang 40% porsi saham TDI.

Dian menerangkan bahwa langkah konsolidasi terpusat ini menjadi kunci utama dalam mengoptimalkan ekosistem digital korporasi ke depan.

“Langkah tersebut diharapkan mampu memperluas layanan, mengoptimalkan monetisasi aset, serta mendorong pertumbuhan melalui kolaborasi dengan mitra strategis,” kata Dian.

Di luar pilar data center, performa signifikan diperlihatkan oleh PT Telkom Infrastruktur Indonesia (TIF) di bawah inisiatif Infranexia. 

TIF membukukan lonjakan total aset dari semula Rp3,94 triliun per 31 Desember 2025 menjadi Rp48,80 triliun per 30 Juni 2026. Lonjakan nilai aset ini menandai rampungnya tahap awal proses pengalihan aset jaringan kabel serat optik (Fiber-to-the-Home/FTTH) dari induk perseroan ke TIF.

Sementara itu, merujuk pada rilis laporan keuangan Telkom semester I/2026, pada pilar konektivitas satelit, Telkomsat mengamankan nilai aset mencapai Rp7,90 triliun. Telkomsat memperluas cakupan portofolio bisnisnya lewat kesepakatan purna jual (reseller) untuk layanan dan perangkat Starlink.

Di sisi lain, Segmen B2B ICT Perseroan mencetak pendapatan sebesar Rp7,3 triliun atau tumbuh 35,7% secara kuartalan (quarter-on-quarter/QoQ), di tengah langkah restrukturisasi portofolio dan streamlining yang masih terus berjalan.

Adapun pada Segmen International Business, nilai pendapatan tercatat di angka Rp5,7 triliun. Pergeseran fokus portofolio menuju layanan konektivitas dan solusi digital ber-margin tebal, dipadu menyusutnya ketergantungan pada lini bisnis traditional voice hubbing, diyakini bakal mengerek margin EBITDA dalam kurun beberapa tahun mendatang. 

Pergeseran ini selaras dengan melambungnya lonjakan permintaan kapasitas kabel bawah laut internasional imbas dinamika geopolitik global serta maraknya adopsi teknologi Artificial Intelligence (AI) oleh raksasa teknologi dunia.

Perbandingan dengan Indosat

Bila diperbandingkan dengan segmen B2B Indosat (MIDI - Multimedia, Data Communication, & Internet) pada Semester I/2026, kedua entitas raksasa telekomunikasi Tanah Air ini sama-sama mencatatkan pertumbuhan double-digit pada lini bisnis korporasi.

Meski demikian, terdapat perbedaan mencolok jika ditinjau dari skala nominal pendapatan serta fokus pendorong pertumbuhannya.

Telkom mencatatkan keunggulan dari segi nominal. Segmen B2B Infrastructure Telkom sukses mengantongi Rp33,1 triliun (pendapatan eksternal Rp4,7 triliun). Angka tersebut masih ditambah oleh Segmen B2B ICT yang memberikan kontribusi Rp7,3 triliun pada kurun periode tersebut.

Sementara itu, lini MIDI milik Indosat memberikan kontribusi 15,3% terhadap total pendapatan konsolidasian perseroan (Rp30,65 triliun), yang mengindikasikan nominal pendapatan MIDI berada di kisaran Rp4,69 triliun.

Adapun laju pertumbuhan B2B Telkom disokong oleh penguatan infrastruktur berskala masif, seperti konsolidasi aset data center lewat NeutraDC, peningkatkan tenancy ratio menara Mitratel (1,57x), pengalihan aset fiber optic ke Infranexia/TIF (aset melesat jadi Rp48,8 triliun), serta bisnis satelit (Starlink reseller). 

Sementara itu, pertumbuhan segmen MIDI dipacu oleh melonjaknya permintaan layanan IT, konektivitas tetap (fixed connectivity), serta internet tetap.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index