KEMENDAGRI

Dirjen Polpum Kemendagri Ajak Masyarakat Perkuat Bela Negara Lewat Ketahanan Pangan

Dirjen Polpum Kemendagri Ajak Masyarakat Perkuat Bela Negara Lewat Ketahanan Pangan
Dirjen Polpum Kemendagri Ajak Masyarakat Perkuat Bela Negara Lewat Ketahanan Pangan

JAKARTA - Kesadaran membela negara di era modern dinilai tidak cukup diwujudkan lewat slogan atau seruan normatif, melainkan harus hadir dalam tindakan nyata yang menyentuh kehidupan sehari-hari. Hal inilah yang ditekankan Direktur Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum (Dirjen Polpum) Kementerian Dalam Negeri, Akmal Malik, saat membuka kegiatan Aksi Bela Negara Menyongsong 5 Abad Jakarta Sebagai Kota Global Yang Berbudaya, di Balai Kota DKI Jakarta, Selasa, “10 Februari 2026”. Kegiatan tersebut diselenggarakan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) DKI Jakarta dengan mengusung tema “Meningkatkan Ketahanan Pangan Tahun 2026”.

Bela Negara sebagai Aksi Nyata Sehari-hari

Dalam arahannya, Akmal Malik menegaskan bahwa esensi bela negara saat ini harus diterjemahkan menjadi perbuatan konkret, bukan sekadar wacana. Menurutnya, tantangan global yang semakin kompleks menuntut setiap warga negara untuk memiliki kesadaran ideologis dan tanggung jawab sosial sejak dini. Salah satu bentuk paling relevan dari praktik bela negara adalah keterlibatan aktif dalam menjaga dan memperkuat ketahanan pangan.

Akmal menilai, program strategis yang dirancang pemerintah pusat tidak akan mencapai hasil optimal tanpa inisiatif personal dari masyarakat. Oleh karena itu, kesadaran individu menjadi kunci dalam membangun kekuatan kolektif bangsa. Ia menekankan bahwa ketahanan pangan bukan semata isu ekonomi, tetapi juga menyangkut kedaulatan dan stabilitas nasional.

Ketahanan Pangan sebagai Pilar Kedaulatan Bangsa

Dalam konteks global, ketahanan pangan menghadapi tantangan serius, mulai dari perubahan iklim, fluktuasi harga pangan dunia, hingga ketergantungan impor. Akmal menyebut, kondisi ini menuntut setiap negara, termasuk Indonesia, untuk memperkuat kemandirian pangan. Upaya tersebut harus dilakukan secara menyeluruh, melibatkan pemerintah, dunia usaha, hingga masyarakat di tingkat paling bawah.

Ia menegaskan bahwa ketahanan pangan bukan hanya tanggung jawab petani atau pelaku sektor pertanian, melainkan kewajiban seluruh elemen bangsa. Setiap individu, keluarga, dan komunitas dapat berkontribusi melalui langkah sederhana seperti menanam bahan pangan di lingkungan sekitar, mengurangi pemborosan, serta mendukung produk pangan lokal.

Menurut Akmal, bila kesadaran kolektif ini tumbuh, maka Indonesia akan memiliki fondasi yang kuat dalam menghadapi berbagai krisis global. Dengan ketersediaan pangan yang memadai, stabilitas sosial dapat terjaga, sekaligus memperkuat posisi Indonesia di tengah dinamika internasional.

Sinergi Pemerintah Daerah dan Masyarakat

Lebih jauh, Akmal mendorong pemerintah daerah untuk berperan aktif dalam menggerakkan masyarakat agar terlibat dalam agenda ketahanan pangan. Sinergi antara pusat dan daerah dinilai sangat penting agar program-program yang dirancang dapat berjalan efektif di lapangan. Ia menilai, kepala daerah memiliki posisi strategis untuk mendorong inovasi dan kolaborasi lintas sektor.

Melalui kegiatan Aksi Bela Negara ini, diharapkan muncul berbagai inisiatif kreatif di tingkat lokal, mulai dari pemanfaatan lahan kosong, penguatan kelompok tani, hingga edukasi kepada generasi muda. Akmal menyebut, generasi muda memiliki peran besar sebagai agen perubahan, terutama dalam mengadopsi teknologi dan metode pertanian modern yang lebih efisien.

Ia juga menggarisbawahi pentingnya keterlibatan dunia pendidikan dalam menanamkan nilai-nilai ketahanan pangan sejak dini. Sekolah dapat menjadi ruang pembelajaran praktis bagi siswa untuk memahami pentingnya menanam, merawat, dan memanfaatkan hasil pertanian sebagai bagian dari gaya hidup berkelanjutan.

Ketahanan Pangan dan Program Prioritas Nasional

Dalam paparannya, Akmal mengaitkan agenda ketahanan pangan dengan berbagai program prioritas nasional yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto. Program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, serta swasembada pangan dinilai memerlukan dukungan pasokan pangan yang stabil dan berkelanjutan.

Ia menekankan bahwa keberhasilan program-program tersebut sangat bergantung pada kesiapan daerah dalam menyiapkan produksi pangan. Oleh karena itu, pemerintah daerah diharapkan mampu memetakan potensi wilayah masing-masing dan mengoptimalkan sumber daya lokal. Dengan pendekatan ini, ketahanan pangan tidak hanya meningkatkan kesejahteraan masyarakat, tetapi juga memperkuat ekonomi daerah.

Akmal menyebut, ketahanan pangan harus dipandang sebagai investasi jangka panjang. Manfaatnya tidak hanya dirasakan dalam jangka pendek, tetapi juga menentukan kualitas generasi mendatang. Dengan gizi yang baik dan akses pangan yang merata, Indonesia akan lebih siap menyongsong visi Indonesia Emas 2045.

Membangun Kesadaran Kolektif untuk Masa Depan

Di akhir sambutannya, Akmal mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan ketahanan pangan sebagai bagian dari gaya hidup dan identitas kebangsaan. Ia menilai, semangat bela negara akan semakin bermakna apabila diwujudkan dalam tindakan nyata yang memberikan dampak langsung bagi kesejahteraan bersama.

Menurutnya, membela negara di masa kini berarti memastikan bahwa setiap warga memiliki akses terhadap pangan yang cukup, aman, dan bergizi. Dengan demikian, bangsa Indonesia tidak hanya berdaulat secara politik, tetapi juga mandiri secara ekonomi dan sosial.

Kegiatan Aksi Bela Negara Menyongsong 5 Abad Jakarta ini diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bersama dalam membangun ketahanan pangan nasional. Melalui kolaborasi yang solid antara pemerintah, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan, Indonesia diyakini mampu menghadapi berbagai tantangan global sekaligus mewujudkan cita-cita sebagai bangsa yang tangguh dan berdaya saing.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index