JAKARTA - Pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2025 memberikan gambaran kuat tentang daya tahan ekonomi nasional di tengah tantangan global. Menurut data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS), perekonomian Indonesia tumbuh sebesar 5,11% secara year-on-year (yoy) pada akhir 2025, meningkat dari 5,03% pada tahun sebelumnya. Selain itu, data kinerja ekonomi pada kuartal IV 2025 menunjukkan ekspansi sebesar 5,39% (yoy), lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencapai 5,04% (yoy).
Angka-angka ini bukan hanya sekadar indikator statistik — mereka mencerminkan dinamika konsumsi domestik, investasi, dan permintaan eksternal yang terus bergerak positif meskipun kondisi global menunjukkan perlambatan yang meluas. Keberhasilan ini menjadi landasan kuat bagi pandangan optimis lembaga-lembaga ekonomi terhadap prospek pertumbuhan di tahun berikutnya.
BI: Outlook Ekonomi Indonesia di 2026
Bank Indonesia (BI) mengemukakan bahwa perekonomian Indonesia diperkirakan akan tumbuh di kisaran 4,9–5,7% pada 2026. Proyeksi ini merupakan bagian dari asumsi pertumbuhan yang digunakan dalam Kebijakan Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM PPKF) RAPBN Tahun 2024. Pernyataan ini disampaikan dalam konteks menanggapi pandangan berbagai fraksi di parlemen terkait asumsi pertumbuhan tersebut.
Dalam pernyataannya, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menyatakan,
“Ke depan, pertumbuhan ekonomi 2026 diprakirakan meningkat dalam kisaran 4,9–5,7% (yoy) didukung oleh peningkatan permintaan domestik sejalan dengan berbagai bauran kebijakan yang ditempuh untuk terus mendorong pertumbuhan ekonomi.”
Kisaran proyeksi itu mencerminkan optimisme BI terhadap peran konsumsi rumah tangga, investasi, dan upaya kolaboratif kebijakan fiskal-moneter yang diarahkan untuk menjaga momentum pertumbuhan sekaligus mempertahankan stabilitas ekonomi nasional.
Komponen Pendorong Pertumbuhan Kuartal IV 2025
Pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV 2025 tidak terjadi secara kebetulan: terdapat sejumlah komponen utama yang memberikan kontribusi signifikan terhadap angka tersebut.
Salah satu pendorong terbesar adalah konsumsi rumah tangga, yang tumbuh sebesar 5,11% (yoy). Pertumbuhan ini tidak lepas dari kebijakan pemerintah dan BI yang dirancang untuk menjaga daya beli masyarakat, sekaligus merangsang aktivitas ekonomi selama periode libur besar seperti Natal dan Tahun Baru.
Selain itu, investasi menunjukkan momentum positif dengan pertumbuhan mencapai 6,12% (yoy). Dorongan ini terutama berasal dari peningkatan barang modal, mesin, dan perlengkapan, yang mencerminkan meningkatnya kepercayaan investor terhadap prospek aktivitas bisnis domestik. Sementara konsumsi pemerintah juga tumbuh sebesar 4,55% (yoy) sebagai respons terhadap akselerasi belanja negara untuk mendukung berbagai program prioritas.
Pertumbuhan sektor nonprofit yang melayani rumah tangga (LNPRT) juga menyumbang angka positif sebesar 5,90% (yoy), menunjukkan bahwa aktivitas sosial-ekonomi di level masyarakat turut berkontribusi terhadap agregat permintaan domestik. Secara keseluruhan, berbagai komponen ini menciptakan kombinasi yang menahan laju pertumbuhan sekaligus memperkuat struktur ekonomi.
Peranan Ekspor dan Aktivitas Lapangan Usaha
Selain konsumsi domestik dan investasi, pertumbuhan ekspor tetap menunjukkan tren positif pada tahun 2025. Meskipun tekanan global memberi tantangan bagi sektor eksternal, permintaan dari mitra dagang utama Indonesia masih cukup kuat, yang membantu menjaga pertumbuhan ekspor pada kuartal IV 2025 sebesar 3,25% (yoy).
Dengan demikian, kontribusi ekspor tetap penting dalam menopang total pertumbuhan ekonomi, meskipun mungkin tidak sebesar peran konsumsi domestik.
Dari perspektif lapangan usaha, seluruh sektor menunjukkan kinerja positif, dengan kecuali beberapa subsektor seperti pertambangan dan pengadaan air. Sektor industri pengolahan, perdagangan, serta informasi dan komunikasi menjadi kontributor utama terhadap pertumbuhan kuartal IV 2025, menandakan adanya diversifikasi yang sehat dalam struktur pertumbuhan ekonomi.
Tantangan dan Komitmen Kebijakan di 2026
Melihat 2025 sebagai tahun yang penuh dinamika, tantangan ekonomi tetap ada ketika memasuki 2026. Bank Indonesia menggarisbawahi pentingnya penguatan bauran kebijakan — yakni kombinasi kebijakan moneter, fiskal, dan stabilitas keuangan — untuk memastikan tren pertumbuhan tidak hanya berlanjut tetapi juga terjaga dari risiko keseimbangan makroekonomi.
Komitmen BI untuk memperkuat kebijakan tersebut menunjukkan keseriusan otoritas dalam menjaga stabilitas harga, nilai tukar, serta menciptakan iklim investasi yang kondusif. Langkah-langkah seperti koordinasi lebih erat dengan pemerintah, sinergi antara kebijakan nasional dan daerah, serta pengendalian inflasi yang efektif diharapkan akan mendukung pencapaian proyeksi pertumbuhan ekonomi di kisaran yang diperkirakan.
Dengan demikian, pandangan Bank Indonesia mengarahkan perhatian pada tidak hanya angka pertumbuhan semata, tetapi juga pada pondasi yang kuat bagi kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2026.