Rupiah Dibuka Menguat ke Rp16.851 Per Dolar AS 11 Maret 2026

Rabu, 11 Maret 2026 | 12:48:57 WIB
Rupiah Dibuka Menguat ke Rp16.851 Per Dolar AS 11 Maret 2026

JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada Rabu, 11 Maret 2026, dibuka dengan penguatan meski pasar global masih diwarnai ketidakpastian geopolitik.

Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.10 WIB, rupiah terapresiasi 0,07% atau 12 poin ke level Rp16.851 per dolar AS. Indeks dolar AS sendiri stagnan di angka 98,83.

Penguatan ini menjadi sinyal positif bagi pasar domestik, setelah sehari sebelumnya, Selasa, 10 Maret 2026, rupiah ditutup menguat 87 poin ke level Rp16.862. Bahkan dalam intraday perdagangan, rupiah sempat menguat 95 poin terhadap greenback.

Menurut pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, sentimen global saat ini menjadi faktor dominan yang memengaruhi pergerakan rupiah, terutama terkait konflik geopolitik di Timur Tengah.

Sentimen Global Pengaruhi Penguatan Rupiah

Ibrahim menyoroti pernyataan Presiden AS, Donald Trump, mengenai perang terhadap Iran yang dianggapnya ‘sangat lengkap’. Trump menekankan bahwa Washington berada lebih maju dari perkiraan awal selama empat hingga lima minggu. 

Tanggapan dari Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan bahwa Teheran akan menentukan akhir perang dan menegaskan bahwa tidak akan ada satu liter minyak pun yang diekspor jika serangan AS dan Israel berlanjut.

Meskipun konflik memanas, harga minyak dunia justru tetap berada di bawah tekanan. Trump mempertimbangkan opsi melonggarkan sanksi minyak terhadap Rusia dan melepaskan cadangan minyak mentah darurat untuk menekan lonjakan harga global. 

Perkembangan ini berdampak positif terhadap rupiah karena harga minyak yang stabil mengurangi risiko inflasi dan defisit perdagangan.

“Pasar merespons berita geopolitik dengan hati-hati. Penguatan rupiah sebagian besar didorong ekspektasi stabilisasi harga minyak dan langkah-langkah strategis AS,” ujar Ibrahim.

Faktor Domestik dan Cadangan Devisa Indonesia

Selain sentimen global, kondisi domestik turut berperan. Kekhawatiran pasar muncul terkait cadangan devisa Indonesia yang semakin tergerus akibat tekanan global, terutama imbas konflik AS-Israel-Iran. Posisi cadangan devisa Indonesia pada Februari 2026 tercatat US$151,9 miliar, turun dari US$154,6 miliar pada Januari 2026.

Bank Indonesia menegaskan bahwa cadangan devisa tersebut tetap memadai. Dengan jumlah ini, Indonesia memiliki kemampuan membiayai impor selama 6,1 bulan atau 5,9 bulan jika ditambah pembayaran utang luar negeri. 

Standar internasional merekomendasikan cadangan devisa minimal tiga bulan impor, sehingga posisi Indonesia saat ini masih aman.

“Cadangan devisa ini cukup untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan nasional. Hal ini mendukung penguatan rupiah di tengah sentimen global,” jelas BI.

Proyeksi Pergerakan Rupiah Hari Ini

Ibrahim memperkirakan, rupiah pada perdagangan Rabu, 11 Maret 2026 akan tetap fluktuatif, namun cenderung menguat. Rentang perkiraan berada di level Rp16.820 sampai Rp16.870 per dolar AS.

Menurutnya, sentimen global berupa ketegangan geopolitik dan pergerakan harga minyak, dikombinasikan dengan cadangan devisa yang memadai, akan menjadi penopang utama stabilitas rupiah. 

“Rupiah memiliki peluang untuk menutup perdagangan hari ini di zona positif meskipun ada volatilitas intraday,” ujar Ibrahim.

Pelaku pasar disarankan untuk terus memantau perkembangan geopolitik dan berita global yang dapat memengaruhi nilai tukar. Selain itu, faktor domestik seperti fundamental ekonomi dan kebijakan fiskal juga akan menentukan arah rupiah dalam jangka menengah.

Penguatan rupiah pada Rabu, 11 Maret 2026, menjadi indikator bahwa pasar mulai menyesuaikan ekspektasi terhadap ketegangan global dan stabilitas ekonomi domestik. 

Cadangan devisa yang cukup serta strategi pengelolaan pasar dari Bank Indonesia membantu menjaga ketahanan mata uang nasional.

Investor disarankan tetap cermat dalam memantau fluktuasi pasar, memanfaatkan momen penguatan untuk strategi lindung nilai atau diversifikasi portofolio, serta tetap waspada terhadap berita global yang dapat memicu volatilitas mendadak.

Terkini