Bank Indonesia Ungkap Penjualan Ritel Tumbuh Signifikan, Tekanan Harga Tipis Terlihat

Rabu, 11 Februari 2026 | 13:41:37 WIB
Bank Indonesia Ungkap Penjualan Ritel Tumbuh Signifikan, Tekanan Harga Tipis Terlihat

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) mencatat lonjakan signifikan dalam kinerja penjualan ritel di awal tahun 2026 menunjukkan daya beli masyarakat yang masih kuat. Namun di sisi lain, lembaga ini turut mencermati munculnya sinyal tekanan harga di periode mendatang, terutama menjelang momen konsumsi tinggi seperti Ramadan dan Idulfitri. Catatan Bank Indonesia dirilis melalui survei terbaru dan menjadi bahan evaluasi penting bagi kondisi ekonomi domestik yang masih menghadapi dinamika global dan musiman.

Bank Indonesia Melaporkan Laju Penjualan Ritel yang Menjanjikan

Survei Penjualan Eceran yang dirilis Bank Indonesia menggambarkan bahwa penjualan ritel pada Januari 2026 diprakirakan tumbuh kuat secara tahunan. Indeks Penjualan Riil (IPR) untuk periode ini meningkat sebesar 7,9 persen year-on-year (yoy). Pertumbuhan tahunan ini menjadi salah satu indikator bahwa konsumsi domestik masih berjalan positif meskipun ada sejumlah tekanan ekonomi yang mulai muncul.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menuturkan bahwa penguatan IPR disebabkan oleh kenaikan permintaan pada beberapa kelompok barang penting. Kelompok Barang Budaya dan Rekreasi, Makanan, Minuman dan Tembakau, serta Subkelompok Sandang menjadi kontributor utama dalam pertumbuhan penjualan ritel tersebut. Hal ini menegaskan bahwa masyarakat masih aktif melakukan pembelian untuk kebutuhan harian dan aktivitas sosial yang mendukung sektor ritel.

Namun demikian, jika dilihat secara bulanan, penjualan ritel menunjukkan kontraksi sebesar 0,6 persen month-to-month (mtm). Bank Indonesia menilai hal ini sebagai fenomena wajar akibat normalisasi konsumsi pascaperiode libur panjang Natal dan Tahun Baru. Menurunnya intensitas belanja setelah periode liburan menjadi salah satu penyebab utama kontraksi bulanan ini.

Daya Beli Masyarakat dan Normalisasi Pasca Libur

Meskipun terjadi kontraksi bulanan, BI mencatat bahwa tingkat penurunan di Januari 2026 lebih moderat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, ketika kontraksi mencapai angka 4,7 persen (mtm). Hal ini menjadi sinyal bahwa daya beli masyarakat masih relatif terjaga dan tidak mengalami gejolak tajam setelah periode liburan panjang.

Untuk bulan Desember 2025, data survei Bank Indonesia juga menunjukkan bahwa IPR tumbuh sebesar 3,5 persen (yoy) dan 3,1 persen (mtm). Pertumbuhan pada pengujung tahun tersebut sebagian besar didorong oleh peningkatan penjualan suku cadang dan aksesori, makanan dan minuman, serta barang budaya dan rekreasi — mengindikasikan tren konsumsi yang konsisten dari masyarakat pada akhir tahun.

Kinerja penjualan ritel yang positif ini turut menjadi sorotan pelaku pasar dan pembuat kebijakan, mengingat konsumsi rumah tangga merupakan salah satu pilar utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Seiring dengan dinamika global dan domestik, BI terus memantau data-data ekonomi untuk merumuskan kebijakan moneter yang adaptif terhadap perubahan kondisi ekonomi.

Munculnya Sinyal Tekanan Harga di Tahun Ini

Di balik catatan pertumbuhan penjualan ritel yang menggembirakan, BI juga memperhatikan adanya indikasi tekanan harga yang mulai menguat. Indikator ini dipantau melalui Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) yang menunjukkan kenaikan untuk periode Maret dan Juni 2026. IEH pada Maret tercatat mencapai 175,7, sedangkan untuk Juni berada di angka 156,3, masing-masing lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya.

Bank Indonesia menilai bahwa kenaikan IEH ini mencerminkan ekspektasi masyarakat terhadap potensi kenaikan harga barang dan jasa yang bisa terjadi menjelang momen konsumsi besar seperti Ramadan dan Idulfitri 1447 H. Ekspektasi inflasi ini menjadi perhatian penting, terutama karena tekanan harga yang tinggi dapat memengaruhi daya beli dan stabilitas ekonomi secara luas.

Menurut BI, kondisi dinamika konsumsi domestik yang dipengaruhi oleh faktor musiman dan ekspektasi harga menunjukkan bahwa masyarakat cenderung menyesuaikan pola belanja mereka. Dorongan permintaan yang konsisten di awal tahun berpotensi diikuti oleh tekanan pada harga, karena meningkatnya permintaan terhadap sejumlah komoditas pokok saat periode perayaan besar keagamaan.

Catatan Pembanding dan Tren Konsumsi Domestik

Meski survei Bank Indonesia menunjukan pertumbuhan ritel yang menjanjikan, kondisi ini bukan tanpa tantangan. Tren permintaan yang dipupuk oleh musim liburan pada akhir tahun sering kali diikuti oleh penurunan intensitas belanja di awal tahun. Namun, BI menyatakan bahwa kontraksi bulanan yang terjadi pada Januari 2026 lebih moderat dibanding tahun sebelumnya, menunjukkan fundamental konsumsi yang lebih solid.

Bank Indonesia juga menaruh perhatian pada kelompok barang yang lebih rentan mengalami fluktuasi harga, terutama menjelang momen seperti Ramadan dan Idulfitri yang biasanya disertai lonjakan permintaan masyarakat. Lonjakan permintaan ini berpotensi memicu pergerakan harga yang lebih tinggi jika tidak diimbangi dengan pasokan yang memadai.

Tanggapan Bank Indonesia terhadap Ekspektasi Harga

BI menilai kenaikan ekspektasi harga perlu ditanggapi dengan strategi moneter yang tepat untuk menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat. Peningkatan indeks ekspektasi harga umum tidak selalu berarti inflasi riil akan melonjak drastis, namun menjadi sinyal penting bahwa tekanan harga perlu dipantau lebih intensif.

Dalam komunikasi resminya, Bank Indonesia menyampaikan bahwa situasi ini menunjukkan kompleksitas kondisi ekonomi Indonesia di awal tahun. Di satu sisi, konsumsi masyarakat menunjukkan momentum yang kuat; di sisi lain, dinamika ekspektasi harga menuntut kewaspadaan dalam kebijakan yang menjadi instrumen stabilisasi ekonomi.

Dengan data penjualan ritel yang masih positif dan sinyal tekanan harga yang mulai terlihat, Bank Indonesia diperkirakan akan terus menyeimbangkan kebijakan moneternya antara mendorong pertumbuhan ekonomi dan menjaga stabilitas harga. Ini akan menjadi tantangan tersendiri bagi otoritas moneter dalam merespons kondisi yang bergerak dinamis di tahun 2026.

Terkini