JAKARTA - PT Bank BCA Syariah mengambil langkah strategis baru pada awal 2026 untuk memperkuat layanan valuta asing (valas) sebagai respons terhadap aktivitas transaksi lintas negara yang meningkat. Setelah resmi mengantongi izin sebagai bank devisa, BCA Syariah kini fokus menyediakan fitur dan produk valas yang dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan nasabah ritel dan organisasi.
Penguatan Layanan untuk Nasabah Ritel
Di fase awal pengembangan layanan valas, BCA Syariah menempatkan perhatian utama pada kebutuhan nasabah ritel. Presiden Direktur BCA Syariah, Yuli Melati Suryaningrum, menjelaskan bahwa produk pertama yang diluncurkan setelah memperoleh status bank devisa adalah sebuah fitur yang disebut Saku Valas. Produk ini kini sedang dalam tahap uji coba atau pilot dan dirancang untuk memudahkan nasabah dalam menyimpan dana dalam mata uang asing dengan lebih fleksibel.
Yuli mengatakan bahwa Saku Valas tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan dana, tetapi juga akan dikembangkan untuk mendukung layanan remitansi ke luar negeri. “Ke depan, dana yang tersimpan di Saku Valas tidak hanya berfungsi sebagai tabungan, tetapi juga akan dikembangkan untuk mendukung layanan remitansi ke luar negeri,” tegasnya.
Selain itu, BCA Syariah tengah mempersiapkan agar Saku Valas dapat digunakan untuk melakukan transaksi atau belanja di luar negeri. Langkah ini diharapkan dapat memberikan pengalaman perbankan yang lebih menyeluruh bagi nasabah ritel, sekaligus memudahkan mereka bertransaksi lintas negara tanpa hambatan.
Nasabah dimungkinkan membeli berbagai mata uang asing, seperti dolar AS atau yen Jepang, langsung dari rekening rupiah mereka. Dana tersebut kemudian akan tersimpan di Saku Valas sesuai dengan mata uang yang dipilih oleh nasabah.
Rencana Pengembangan Produk untuk Korporasi
Walaupun fokus awal BCA Syariah adalah segmen ritel, perseroan tidak mengesampingkan kebutuhan nasabah organisasi atau korporasi. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, bank berencana mengembangkan produk giro valas. Produk ini nantinya akan dibangun secara bertahap seiring dengan penguatan ekosistem layanan devisa yang dilakukan oleh perseroan.
Pengembangan produk giro valas ini ditujukan untuk memberikan fasilitas yang lebih komprehensif bagi nasabah korporat, terutama yang memiliki kebutuhan transaksi internasional dalam jumlah besar atau yang berkaitan dengan aktivitas perdagangan global. Dengan demikian, layanan BCA Syariah akan mampu bersaing secara lebih efektif dengan bank devisa lainnya dalam memenuhi kebutuhan bisnis lintas negara.
Pendekatan Fleksibel pada Kerja Sama Internasional
Terkait dengan layanan internasional, BCA Syariah memilih pendekatan yang lebih fleksibel, terutama dalam menyediakan layanan remitansi ke berbagai negara. Layanan ini dikembangkan untuk disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat modern, seperti pembayaran biaya pendidikan di luar negeri atau kebutuhan transfer internasional lainnya yang semakin meningkat seiring globalisasi.
Pendekatan ini mencerminkan pemahaman BCA Syariah akan dinamika pasar dan kebutuhan nasabah yang semakin kompleks. Dengan memahami langsung kebutuhan tersebut, perseroan berharap dapat menciptakan produk yang relevan dan mudah digunakan, sekaligus meningkatkan inklusi layanan perbankan berbasis syariah.
Fokus pada Prinsip Customer Focus
BCA Syariah menegaskan bahwa prinsip customer focus menjadi landasan utama dalam mengembangkan seluruh produk dan layanan, termasuk layanan valas. Manajemen perusahaan mengatakan setiap inisiatif yang dijalankan selalu berangkat dari kebutuhan nyata nasabah, terutama nasabah ritel yang menjadi fokus awal pengembangan layanan ini.
Pendekatan customer focus ini mencakup pemahaman mendalam tentang apa yang dibutuhkan nasabah, lalu merancang produk yang relevan, sederhana, dan mudah digunakan sehari-hari. Strategi ini dianggap penting karena perseroan ingin memastikan bahwa layanan valas yang disediakan bukan hanya lengkap, tetapi juga sesuai dengan preferensi dan ekspektasi pengguna.
Lebih jauh lagi, fokus pada segmen ritel ini menandai perbedaan dengan skema penempatan dana valas yang umumnya dilakukan oleh bank-bank besar Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). Produk valas BCA Syariah tidak termasuk dalam skema besar tersebut, melainkan dikembangkan secara terpisah dengan pendekatan yang lebih personal bagi nasabah ritel.
Target Pertumbuhan dan Kinerja Bisnis
Dalam aspek kinerja, BCA Syariah menargetkan pertumbuhan double digit pada tahun 2026, baik dari sisi pembiayaan, aset, dana pihak ketiga, maupun profitabilitas. Untuk mencapai target pertumbuhan tersebut, perseroan akan terus memantapkan fitur layanan dan memperluas ekosistem digitalnya, termasuk layanan remitansi dan produk valas yang kini tengah dikembangkan.
Dalam hal pembiayaan, BCA Syariah tetap menerapkan prinsip selektif dengan fokus pada segmen-segmen yang memiliki fundamental kuat, baik di sektor konsumer maupun komersial. Hal ini dipandang sebagai peluang untuk pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan.
Perseroan juga berkomitmen menjaga kualitas asetnya melalui penerapan prinsip kehati-hatian secara konsisten. Penilaian menyeluruh terhadap prospek usaha, kualitas agunan, dan risiko dilakukan agar rasio non-performing financing (NPF) tetap terkendali. Saat ini, rasio net NPF BCA Syariah tercatat berada di bawah 2%, dan bank berkomitmen mempertahankan level tersebut seiring ekspansi bisnis ke depan.
Dengan berbagai strategi ini, BCA Syariah berharap dapat memperkuat posisinya sebagai bank devisa yang mampu menyediakan layanan valas yang relevan dan kompetitif bagi masyarakat di era globalisasi saat ini.