SDM Unggul jadi Kunci Penguatan Industri Pertambangan Nasional yang Kompetitif

Rabu, 11 Februari 2026 | 12:55:02 WIB
SDM Unggul jadi Kunci Penguatan Industri Pertambangan Nasional yang Kompetitif

JAKARTA - Industri pertambangan Indonesia tengah menghadapi tantangan dan kesempatan besar di tengah upaya transisi ekonomi nasional menuju era yang lebih modern dan berdaya saing tinggi. Peranan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas muncul sebagai titik tumpu utama agar sektor ini tidak hanya mampu bertahan secara operasional, tetapi juga berkembang menjadi industri yang kompetitif di kancah global. Fokus kebutuhan insinyur kompeten dan penerapan pendidikan terapan membuka peluang besar bagi generasi muda profesional tambang yang siap menyokong pembangunan nasional menuju target Indonesia Emas 2045.

Kebutuhan SDM Ahli untuk Menopang Hilirisasi

Visi “Indonesia Emas 2045” menempatkan pembangunan manusia sebagai salah satu pilar penting, termasuk dalam konteks penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama di sektor pertambangan. Dalam artikel wawancara dengan Rizal Kasli, Ketua Dewan Penasehat Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi), dijelaskan bahwa kebutuhan tenaga kerja yang berkualitas di sektor ini sejalan dengan program hilirisasi mineral yang telah dicanangkan pemerintah. Program hilirisasi tersebut bukan sekadar kebijakan jangka pendek — melainkan bagian dari strategi nasional untuk meningkatkan nilai tambah komoditas mineral seperti nikel, bauksit, tembaga, timah, dan batu bara melalui pengolahan dan pemurnian di dalam negeri.

Rizal menilai bahwa kebutuhan tenaga ahli berbasis ilmu kebumian — termasuk insinyur teknik pertambangan — akan terus meningkat, bahkan jauh ke depan. Total kebutuhan yang diperkirakan mencapai 23.202 tenaga kerja, dengan rincian lulusan teknik pertambangan sebanyak 9.804 orang, teknik geofisika 3.570, teknik geologi 8.618, serta lulusan teknik metalurgi, material, dan kimia sejumlah 1.210 orang. Kebutuhan ini mencerminkan ambisi Indonesia untuk tidak hanya mengelola sumber daya alam, tetapi juga mengolahnya menjadi produk bernilai tambah yang lebih tinggi.

Peran Pendidikan dan Kolaborasi untuk SDM Kompeten

Menurut Rizal Kasli, tantangan utama dalam memenuhi kebutuhan SDM di sektor pertambangan bukan hanya jumlah, tetapi juga kualitas. Dibutuhkan tenaga kerja yang memiliki kemampuan teknis tinggi, memahami praktik pertambangan modern, serta memiliki wawasan dalam pengelolaan lingkungan dan keselamatan kerja. Dalam konteks ini, Perhapi bersama Persatuan Insinyur Indonesia (PII) berperan aktif menjembatani kolaborasi antara industri, perguruan tinggi, dan pemerintah untuk mempersiapkan SDM yang memenuhi standar kebutuhan lapangan dan industri secara umum.

Rizal menekankan bahwa persiapan SDM harus berbasis pada ilmu pengetahuan dan teknologi yang mutakhir, sehingga para lulusan tidak sekadar siap bekerja, tetapi juga mampu bersaing di tingkat global. Dalam era industri 4.0 dan percepatan teknologi digital, kemampuan profesional di bidang pertambangan harus melampaui kemampuan operasional dasar dan termasuk kompetensi dalam manajemen teknologi serta inovasi berkelanjutan.

Menjawab Tantangan Deplesi Sumber Daya dan Transisi Energi

Selain itu, Rizal juga melihat bahwa kebutuhan insinyur pertambangan tidak hanya didorong oleh ekspansi kegiatan eksplorasi dan produksi, tetapi juga oleh dinamika geologi seperti deplesi cadangan mineral dan batu bara, penemuan cadangan baru, konservasi cadangan minerba, serta perluasan kegiatan tambang bawah tanah (deep mining). Kebutuhan lanjutan ini mencakup area-area penting seperti pengembangan Wilayah Izin Usaha Pertambangan Khusus (WIUPK) baru, IUPK wajib, reklamasi pasca tambang, serta perspektif industri terhadap energi transisi dan mineral kritis — faktor-faktor yang menentukan kemampuan jangka panjang Indonesia dalam memanfaatkan sumber daya alamnya secara bijak dan berkelanjutan.

Ketersediaan SDM terampil juga akan menjadi krusial dalam memastikan bahwa proyek hilirisasi yang sedang dikembangkan dapat berjalan efektif dengan teknologi tepat guna, tanpa mengorbankan aspek lingkungan dan keselamatan operasional. Hal ini mencerminkan pandangan luas bahwa pertambangan yang berdaya saing tinggi bukan hanya soal volume produksi, tetapi juga efisiensi, inovasi teknologi, dan nilai tambah dalam proses produksi.

SDM dalam Industri Pertambangan: Memperluas Peran dan Kesempatan

Lebih jauh lagi, peningkatan kapasitas SDM di sektor ini berimplikasi terhadap kesempatan kerja dan ekonomi nasional secara lebih luas. Program hilirisasi yang dicanangkan oleh pemerintah diprediksi akan membuka lapangan kerja baru terutama bagi lulusan teknik dan profesional yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan industri. Dengan meningkatnya fasilitas pengolahan mineral di dalam negeri, peluang kerja tersebut diperkirakan akan berdampak positif terhadap penyerapan tenaga kerja lokal, sekaligus hanya akan memperkaya ekosistem industri pertambangan nasional secara keseluruhan.

Dalam konteks ini, kolaborasi antara pelaku industri tambang, lembaga profesional seperti Perhapi dan PII, serta pemerintah akan menjadi pendorong utama dalam mencetak generasi SDM yang siap mengisi peran strategis di masa depan. Kesamaan visi dalam memajukan SDM berkualitas, bukan hanya memenuhi permintaan industri, tetapi juga memperkuat daya saing global, menjadi komitmen penting demi mewujudkan aspirasi Indonesia Emas 2045 secara holistik dan berkelanjutan.

Menguatkan Daya Saing Industri untuk Masa Depan

Dengan berbagai dinamika ini, sektor pertambangan Indonesia berdiri di persimpangan antara tantangan besar dan peluang luar biasa. Kekuatan utama yang menjadi penentu keberhasilan industri ini justru terletak pada kualitas sumber daya manusianya. Sejalan dengan visi pembangunan nasional yang mengedepankan penguasaan teknologi dan inovasi, SDM unggul akan menjadi asset strategis dalam mendorong pertumbuhan industri pertambangan yang tidak hanya kompetitif, tetapi juga berkelanjutan dan berdaya saing tinggi dalam peta ekonomi global 2045.

Terkini