Terbebani Proyek Whoosh, Laba Bersih PT KAI Anjlok Lebih dari 70 Persen

Senin, 03 Agustus 2026 | 23:22:01 WIB
Beban Investasi Whoosh Gerus Laba PT KAI pada Semester I 2026 [FOTO: NET].

JAKARTA - PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI membukukan pertumbuhan pendapatan pada semester I 2026. Kendati demikian, kenaikan pendapatan tersebut belum sanggup mendongkrak laba bersih perseroan lantaran masih terbebani oleh rugi dari perusahaan asosiasi dan usaha patungan, utamanya Kereta Cepat Jakarta–Bandung (Whoosh).

Merujuk laporan keuangan perusahaan, pendapatan KAI pada semester I 2026 menyentuh Rp 17,96 triliun. Angka tersebut melesat 6,6 persen disandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Seiring dengan kenaikan pendapatan, performa operasional perseroan juga mencatatkan perbaikan. Laba bruto terangkat 18,81 persen menjadi Rp 6,79 triliun dari Rp 5,72 triliun pada semester I 2025. 

Sementara itu, laba usaha naik 25,79 persen menuju Rp 4,66 triliun ketimbang Rp 3,71 triliun pada kurun waktu yang sama tahun lalu.

“Pertumbuhan pendapatan dan laba usaha menjadi modal penting bagi KAI untuk menjaga keselamatan perjalanan, kesiapan sarana dan prasarana, serta kualitas pelayanan kepada masyarakat. Kinerja bisnis yang kuat juga mendukung keberlanjutan pengembangan layanan penumpang dan barang,” ujar Anne dalam keterangan tertulis, Senin (3/8/2026).

Laba Bersih Anjlok Meski begitu, lonjakan kinerja operasional tersebut tidak berbanding lurus dengan laba akhir yang sanggup dibukukan perusahaan.

Laba tahun berjalan KAI justru terperosok menjadi Rp 314,03 miliar. Sebagai pembanding, pada semester I 2025 perusahaan masih meraup laba sebelum pajak sebesar Rp 1,86 triliun dengan laba tahun berjalan menyentuh Rp 1,18 triliun. 

Artinya, laba bersih KAI pada semester I 2026 menyusut melebihi 70 persen disandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Kemerosotan laba tersebut utamanya dipengaruhi oleh membengkaknya rugi dari perusahaan asosiasi dan usaha patungan yang menjadi bagian dari investasi KAI.

Salah satu kontributor utama berasal dari PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), perusahaan pemegang saham operator Kereta Cepat Jakarta–Bandung atau Whoosh. Beban dari investasi tersebut menggerus margin keuntungan yang dipetik KAI dari aktivitas operasional inti.

Dengan kata lain, walaupun lini bisnis angkutan penumpang dan barang sanggup membukukan pertumbuhan pendapatan serta laba usaha, hasil akhirnya tetap tertekan imbas kontribusi negatif dari perusahaan asosiasi.

Upaya Danantara Bantu Keuangan KAI

 Sementara itu mengutip dari Antara, Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia Dony Oskaria memastikan beban keuangan yang ditanggung PT Kereta Api Indonesia (Persero) dan PT Wijaya Karya (Persero) (WIKA) terkait proyek PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) bakal dituntaskan secara bertahap sebagai bagian dari pembenahan BUMN.

Dony menyampaikan bahwa persoalan tersebut merupakan bagian dari sederet permasalahan yang sudah mengemuka sebelum pembentukan Danantara. Oleh sebab itu, penyelesaiannya dieksekusi secara bertahap mengingat banyaknya beban yang harus diperbaiki di lingkungan BUMN.

"Kami yang sekarang ini sebenarnya sedang menyelesaikan problem-problem yang ada. Problem-problem ini kan sudah ada sebelumnya. Dengan dimensi yang luar biasa besarnya kan. Nah tentu energinya juga terbatas, satu-satu harus diberesin, ini belum selesai," ujar Dony di Jakarta.

Ia menguraikan bahwa Danantara saat ini tak sekadar menangani persoalan yang dihadapi KAI dan WIKA, melainkan juga bermacam kendala lain di sejumlah BUMN.

Menurut penilaiannya, berbagai kendala tersebut merupakan warisan yang harus dibereskan secara bertahap dengan memperhitungkan keterbatasan waktu dan sumber daya.

"Satu-satu harus diberesin. Ini belum selesai, masih banyak. Tentu kemarin juga lihat Pos (PT Pos), masih punya problem. Kemarin problem Adhi Properti. Itu masih satu-satu diberesin. Itu kan peninggalan-peninggalan yang harus dibereskan pada saat ini," katanya.

Merespons beban finansial WIKA imbas keterlibatannya dalam proyek KCIC, Dony mengakui perseroan konstruksi pelat merah tersebut memang masih dibayangi tekanan. Kendati demikian, Dony menegaskan pemerintah tidak akan membiarkan persoalan tersebut berlarut-larut.

"Ini menjadi beban buat mereka, tapi kan pada akhirnya harus kami selesaikan, nggak mungkin kami diamkan. Jadi saya hanya berupaya menyelesaikan satu per satu. Bagaimana kemudian ini semuanya menjadi proper dan benar," terang Dony.

Terkini