Rupiah Ditutup Menguat ke Rp17.997 per Dolar AS Pasca Rilis Inflasi

Senin, 03 Agustus 2026 | 22:16:01 WIB
Rupiah Ditutup Menguat 0,14% Pasca Rilis Data Inflasi Domestik [FOTO: NET].

JAKARTA - Nilai tukar rupiah ditutup menguat pada level Rp17.997 terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Senin (3/8/2026).

Mengacu pada data analisis Doo Financial Futures, mata uang rupiah menguat sebesar 0,14% ke level Rp17.997 per dolar AS. Rilis data inflasi dalam negeri yang melandai ikut menopang rupiah, meski defisit neraca perdagangan yang kembali terjadi menahan apresiasi lebih lanjut.

Di samping penguatan rupiah atas dolar AS, tren positif juga dialami mayoritas mata uang kawasan Asia lainnya. Kenaikan tertinggi di hadapan dolar AS dicatatkan oleh won Korea sebesar 0,72%, lalu diikuti peso Filipina yang terangkat 0,54%, serta yen Jepang naik 0,39%.

Selanjutnya, baht Thailand terangkat 0,27%, rupee India menguat 0,09%, dolar Singapura terhadap dolar AS naik 0,05%, yuan China naik 0,03%, dan dolar Hong Kong terangkat tipis 0,01%.

Sebaliknya, mata uang yang memimpin pelemahan atas dolar AS yaitu dolar Taiwan sebesar 0,49%, ringgit Malaysia susut 0,24%, dan yuan China turun 0,04%.

Analis Doo Financial Futures Lukman Leong menyampaikan bahwa faktor eksternal menjadi pemicu utama kenaikan rupiah, seiring pelaku pasar menyambut baik prospek perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengutarakan bahwa agenda pembicaraan damai kedua negara dijadwalkan berlangsung pada Senin waktu setempat.

Dari dalam negeri, deretan data ekonomi yang diumumkan memberikan sinyal beragam bagi pergerakan mata uang Garuda.

"Laju inflasi yang semakin terkendali dinilai memberikan ruang positif bagi stabilitas rupiah karena memperkuat ekspektasi terhadap kondisi fundamental ekonomi," ujarnya, Senin (3/8/2026).

Walau demikian, sentimen tersebut sebagian terganjal oleh kembali terciptanya defisit pada neraca perdagangan Indonesia, yang menggambarkan tekanan di sektor eksternal sekaligus berpotensi membatasi ruang penguatan rupiah.

Para pelaku pasar kini mengalihkan fokus pada beberapa agenda penting dari Amerika Serikat. Salah satunya ialah rilis Indeks Manajer Pembelian (ISM) Manufaktur AS, yang akan memberikan gambaran terbaru terkait dinamika aktivitas manufaktur dan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.

Melalui perpaduan sentimen global dan domestik tersebut, rupiah diproyeksikan bergerak pada kisaran Rp17.950 sampai Rp18.100 per dolar AS pada perdagangan Selasa (3/8/2026).

Terkini