Ekspor RI Semester I 2026 Capai Rp2.547 T, Surplus Dagang Rp64 T

Senin, 03 Agustus 2026 | 20:11:38 WIB
Ekspor Indonesia Semester I 2026 Tembus Rp2.547 T, Surplus Rp64 T [FOTO: NET].

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat akumulasi nilai ekspor Indonesia sepanjang periode Januari-Juni 2026 menyentuh angka 140,81 miliar dolar AS (sekitar Rp 2.547 triliun), tumbuh 4,13 persen bila disandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu (year-on-year/yoy).

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengutarakan bahwa kenaikan nilai ekspor tersebut utamanya disokong oleh sektor industri pengolahan yang menyumbang andil sebesar 6,18 persen.

"Sepanjang periode Januari-Juni 2026, nilai ekspor Indonesia mencapai 140,81 miliar dolar AS atau meningkat 4,13 persen dibanding periode yang sama tahun 2025 (year-on-year/yoy)," kata Ateng di Jakarta, Senin (3/8/2026).

Pada semester I 2026, komoditas nonmigas andalan yang mencatatkan pertumbuhan nilai ekspor mencakup minyak sawit mentah (CPO) beserta produk turunannya dengan porsi 9,12 persen, serta batu bara dengan porsi 8,95 persen.

Ditinjau dari negara tujuan, China masih menempati posisi pasar ekspor terbesar bagi Indonesia dengan perolehan nilai 34,56 miliar dolar AS (sekitar Rp 625,89 triliun) atau menyumbang kontribusi 25,58 persen dari total ekspor nasional. 

Komoditas utama yang dikirim ke China meliputi besi dan baja, nikel beserta turunannya, hingga bahan bakar mineral.

Amerika Serikat berada di urutan kedua dengan nilai ekspor nonmigas mencapai 15,82 miliar dolar AS (sekitar Rp 286,54 triliun) atau berkontribusi 11,76 persen. 

Produk unggulan yang dikirim ke Negeri Paman Sam mencakup mesin dan peralatan elektrik beserta komponennya, alas kaki, serta pakaian dan aksesorinya.

Sementara itu, India menduduki peringkat ketiga dengan nilai ekspor sebesar 9,25 miliar dolar AS (sekitar Rp 167,30 triliun) atau dengan porsi 6,87 persen. 

Produk utama yang diekspor ke negara tersebut meliputi bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewani atau nabati, serta mesin dan perlengkapan elektrik beserta suku cadangnya.

Di sisi lain, akumulasi nilai impor Indonesia sepanjang Januari-Juni 2026 menyentuh 137,24 miliar dolar AS (sekitar Rp 2.482 triliun), melonjak 18,69 persen dibandingkan kurun waktu yang sama di tahun sebelumnya. 

Lonjakan impor tersebut terutama dipicu oleh masuknya bahan baku dan barang penolong yang memberikan andil 13,15 persen.

Dengan dinamika tersebut, neraca perdagangan Indonesia sepanjang Januari-Juni 2026 masih membukukan surplus sebesar 3,58 miliar dolar AS atau berkisar Rp 64,75 triliun.

Namun, secara bulanan pada Juni 2026, neraca perdagangan mencatatkan defisit senilai 450 juta dolar AS atau sekitar Rp 8,14 triliun, selepas nilai ekspor terdata sebesar 25,46 miliar dolar AS (sekitar Rp 460,09 triliun), sedangkan nilai impor mencapai 25,91 miliar dolar AS (sekitar Rp 468,23 triliun).

Terkini