Laba Maybank Indonesia (BNII) Tumbuh 21,8 Persen di Semester I/2026

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:40:01 WIB
Kinerja Solid, Laba Sebelum Pajak Maybank Indonesia Tumbuh 21,8% [FOTO: NET].

JAKARTA — PT Bank Maybank Indonesia Tbk. membukukan raihan laba sebelum pajak pada semester I/2026 sebesar Rp933 miliar, atau mengalami kenaikan 21,8% apabila dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya (year-on-year/YoY).

Sementara itu, perolehan laba setelah pajak dan kepentingan non-pengendali (Patami) tercatat menyentuh Rp698 miliar, alias merangkak 21,2% YoY.

Lompatan laba tersebut didorong oleh peningkatan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) mencapai 3,9% secara tahunan seiring dengan penurunan beban bunga. Rasio net interest margin (NIM) sendiri berada pada level 4,3% sepanjang semester I/2026.

Presiden Direktur Maybank Indonesia Steffano Ridwan menyampaikan pencapaian kinerja semester I/2026 mencerminkan eksekusi prioritas bank yang teratur di tengah tren kenaikan suku bunga, serta ditunjang oleh pertumbuhan portofolio pembiayaan yang berkelanjutan.

Menurut pandangannya, perseroan terus melakukan optimalisasi pada struktur pendanaan sehingga biaya dana mengalami penurunan, disertai penerapan tata kelola biaya yang ketat guna mencetak kinerja yang solid di tengah kondisi pasar yang dinamis.

“Ke depan kami akan terus mengembangkan portofolio pembiayaan di segmen korporasi dan UKM sejalan dengan strategi ROAR30 [peta jalan 5 tahunan Maybank] dengan tetap menerapkan manajemen risiko yang prudent serta menjaga kualitas aset yang sehat,” ujarnya dalam siaran pers, dikutip Minggu (2/8/2026).

Di sisi lain, perolehan pendapatan nonbunga mengalami penurunan 5,4% disandingkan dengan periode serupa tahun lalu disebabkan melemahnya performa bisnis Global Markets yang terpengaruh oleh dinamika pasar serta ketidakpastian geopolitik.

Meski begitu, tekanan tersebut sebagian terimbangi oleh melesatnya pendapatan berbasis komisi sebesar 8%, terkhusus dari sektor wealth management, pembiayaan sektor otomotif, serta layanan perbankan ritel.

Secara akumulatif, gross operating income terangkat 1,9% menuju angka Rp4,64 triliun. Perseroan turut menekan pertumbuhan biaya operasional agar tetap terbatas, yakni hanya terkerek 0,8% dari semester pertama 2025.

Dinamika tersebut mendorong pencapaian laba operasional sebelum pencadangan naik 4,7% menjadi Rp1,29 triliun, di saat beban pencadangan sukses ditekan hingga turun 19%.

Kualitas aset pun memperlihatkan tren perbaikan. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross susut menjadi 2,1% dari 2,4% pada Juni 2025, sementara NPL net membaik ke angka 1,3% dari sebelumnya 1,5%.

Pertumbuhan Kredit Maybank

Dari aspek fungsi intermediasi, jumlah penyaluran kredit tumbuh 3,8% secara tahunan menuju Rp126,28 triliun. 

Penopang utama pertumbuhan berakar dari segmen Global Banking yang terangkat 5% ke angka Rp54,98 triliun, didorong oleh peningkatan pembiayaan pada korporasi lokal skala besar mencapai 18% dan sektor Business Banking yang naik 24,3%.

Adapun kredit Community Financial Services (CFS) terangkat 2,9% menjadi Rp71,30 triliun. Pertumbuhan itu disokong peningkatan pembiayaan sektor UKM sebesar 14,4%, pembiayaan lini otomotif lewat entitas anak sebesar 6,5%, serta transaksi kartu kredit dan kredit tanpa agunan yang terangkat 11,2%.

Dilihat dari sisi pendanaan, strategi peningkatan porsi dana murah mulai menunjukkan hasil. Himpunan simpanan nasabah naik 8,2% menjadi Rp124,10 triliun seiring pertumbuhan giro dan tabungan (CASA) yang melonjak 22,4%. Giro merangkak 32,1%, sementara tabungan menguat 4,8%.

Di sisi berlawanan, simpanan deposito berjangka terkoreksi 10,1% sejalan dengan skema optimalisasi struktur pendanaan. Imbasnya, rasio CASA berhasil terangkat menuju level 63,6% dari porsi awal 56,2%.

Akumulasi aset Maybank Indonesia hingga kurun akhir Juni 2026 menembus Rp213,81 triliun atau melonjak 15,6% dibanding periode serupa tahun sebelumnya.

Dari kacamata permodalan, perseroan menjaga fondasi yang kokoh melalui capital adequacy ratio (CAR) pada level 24,3% dan common equity tier 1 (CET1) sebesar 23,2%.

Tingkat likuiditas juga terpantau aman dengan loan to deposit ratio (LDR) mengendap pada angka 86,6%, liquidity coverage ratio (LCR) 138,2%, serta net stable funding ratio (NSFR) 110,7%.

Presiden Komisaris Maybank Indonesia Dato' Sri Khairussaleh Ramli mengungkapkan perseroan berada pada pijakan yang semakin kuat dalam menangkap ekspansi pertumbuhan jangka panjang melalui implementasi tata kelola perusahaan serta manajemen risiko yang disiplin.

Berdasarkan penilaiannya, strategi ROAR30 berikut integrasi entitas bisnis jasa keuangan Maybank di Indonesia akan memperkokoh kapabilitas perseroan dalam menghadirkan solusi keuangan yang lebih terintegrasi bagi para nasabah.

Sementara itu, lini bisnis syariah Maybank turut menorehkan pertumbuhan yang lebih pesat. Laba sebelum pajak dari unit syariah melesat 55,1% menuju Rp488 miliar, didorong pertumbuhan pembiayaan sebesar 11,7% menjadi Rp32,96 triliun. 

Rasio pembiayaan bermasalah (non-performing financing/NPF) gross ikut membaik ke level 2,2% dari 2,4% pada periode setahun sebelumnya.

Entitas anak perseroan pun turut menyumbangkan tren positif. PT Maybank Indonesia Finance menorehkan pertumbuhan pembiayaan 25,3% menjadi Rp8,63 triliun dengan perolehan laba sebelum pajak melompat 40% menuju Rp394 miliar.

Pada saat bersamaan, PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk. (WOM Finance) mencatatkan kenaikan pembiayaan 6% ke angka Rp6,73 triliun serta laba sebelum pajak terangkat 14,8% menjadi Rp121 miliar.

Terkini