IHSG Ditutup Menguat ke 6.236 Ditopang Laju BBRI, BREN, dan AMMN

Jumat, 31 Juli 2026 | 23:27:01 WIB
IHSG Menguat ke 6.236, Saham BBRI, BREN, hingga AMMN Jadi Penopang [FOTO: NET].

JAKARTA — IHSG mengakhiri sesi perdagangan Jumat (31/7/2026) di zona hijau. Deretan saham big caps yang menjadi penopang utama penguatan IHSG di antaranya mencakup BBRI, BREN, hingga AMMN.

Berdasarkan data IDX Mobile, IHSG terangkat 0,08% atau 49,77 poin menuju level 6.236,13. Sebanyak 455 saham mengakhiri sesi di zona hijau, 205 saham terkoreksi, dan 303 saham bertahan di posisi semula. Sepanjang jam perdagangan hari ini, IHSG bergerak pada kisaran 6.201,89 sampai 6.236,62.

Jajaran saham berkapitalisasi besar yang menjadi pendorong indeks pada transaksi hari ini meliputi BBRI yang melonjak 1,67% ke Rp3.040, BREN terangkat 3,08% ke Rp3.350, BMRI naik 0,72% ke Rp4.190, MORA menguat 0,40% ke Rp6.250, serta saham AMMN yang menguat 3,02% ke Rp4.100.

Di samping itu, saham ASII ditutup merangkak 3,03% ke Rp5.100, TPIA menguat 2,37% ke Rp2.160, BRPT bertambah 3,07% ke Rp1.845, DSSA terkerek 1,19% ke Rp850, SRAJ menguat 3,88% ke Rp12.050, PANI naik 0,40% ke Rp6.250, serta saham MPRO yang ditutup melesat 8,11% ke Rp11.000.

Posisi indeks komposit saat ini mencerminkan lonjakan 10,51% sepanjang kurun satu bulan belakangan. Selama periode Juli 2026, IHSG hanya mencatatkan penutupan melemah dalam tujuh hari perdagangan.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta menjelaskan bahwa kondisi pasar saham saat ini dipengaruhi oleh perpaduan dua sentimen dari ranah global dan domestik. 

Di kancah internasional, kebangkitan emiten sektor teknologi telah memengaruhi persepsi para investor global.

Nafan bilang, para pelaku investor mengapresiasi hasil kinerja keuangan Microsoft yang melampaui ekspektasi sehingga menghidupkan kembali optimisme terhadap tema Artificial Intelligence (AI) yang menjadi pendorong utama US stock market, di mana para pelaku investor mulai percaya bahwa investasi AI dapat menghasilkan monetisasi melalui pertumbuhan pendapatan dan laba.

"Selain itu, melunaknya data indikator inflasi favorit The Fed, yakni inflasi Core PCE per Juni 2026 yang hanya naik 0,1% MoM atau 3,3% YoY telah memberikan angin segar bagi pasar saham global," kata Nafan, Jumat (31/7/2026).

Sementara itu dari faktor domestik, Nafan memaparkan bahwa menjelang akhir Juli ini lalu lintas transaksi bursa akan diwarnai aktivitas portfolio adjustment serta penyesuaian arus dana pasif dari para Manajer Investasi menyongsong tanggal efektif perombakan anggota konstituen indeks BEI per 3 Agustus 2026.

Di sisi lain, proyeksi seputar penantian rilis laporan keuangan berbagai emiten selama semester I-2026 menurut pandangannya turut membuka peluang aksi bargain hunting terhadap saham-saham bertipikal fundamental kokoh.

Namun dari aspek risiko, Nafan mencermati bahwa pasar saham Indonesia masih berada di bawah bayang-bayang tingginya volatilitas lantaran pasar masih memantau perkembangan tingkat suku bunga global, imbal hasil obligasi AS, maupun depresiasi nilai tukar rupiah.

"Investor juga menunggu rebalancing indeks MSCI pada Agustus 2026," pungkasnya.

Terkini