JAKARTA - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyampaikan petunjuk mengenai tata cara mengonsumsi obat cacing atau obat untuk mengatasi cacingan dengan tepat. Selaras dengan penamaannya, BPOM memaparkan bahwa jenis obat tersebut difungsikan guna menanggulangi gangguan kesehatan akibat cacingan.
Cacingan sendiri merupakan kondisi penyakit menular yang dipicu oleh adanya infeksi cacing di dalam tubuh manusia. Penularan infeksi ini utamanya terjadi melalui perantara tanah.
“Cacing dapat menginfeksi manusia jika larva infektif tertelan atau menembus kulit, biasanya kulit kaki, kemudian bermigrasi ke aliran darah,” jelas BPOM, dikutip dari Instagram resminya, Jumat (24/7/2026).
Lantas, bagaimana panduan meminum obat cacing yang tepat menurut arahan BPOM?
Cara Minum Obat Cacing
Terdapat bermacam varian obat cacing yang diperjualbelikan di Indonesia, yang mana masing-masing memiliki tata cara konsumsi beserta aturan dosis tersendiri.
BPOM menerangkan, terdapat kelompok obat cacing yang dikategorikan sebagai obat keras, sehingga penerapannya wajib menggunakan resep dokter. Kelompok obat keras ini dapat dikenali melalui simbol lingkaran berwarna merah yang memuat huruf “K” di bagian dalamnya.
Di samping itu, tersedia pula beberapa obat cacing yang tergolong dalam kelompok obat bebas terbatas, yang ditandai lewat simbol lingkaran berwarna biru.
BPOM mengungkapkan, obat bebas terbatas ini bisa didapatkan melalui sarana pelayanan kefarmasian maupun fasilitas lainnya.
“Fasilitas pelayanan kefarmasian intalasi farmasi rumah sakit, puskesmas, klinik, apotek, serta fasilitas lain yang telah memiliki perizinan berusaha,” ungkap BPOM.
“Atau secara daring melalui Penyelenggara Sistem Elektronik Farmasi yang telah terdaftar,” sambungnya.
Berikut ini perincian mengenai tata cara penggunaan obat cacing sesuai dengan jenis obatnya:
1. Albendazol (obat keras) Obat jenis ini bekerja lewat mekanisme penghambatan aktivitas vermisida, ovisidal, serta larvisida.
Indikasi:
Diperuntukkan bagi pengobatan infeksi cacingan, baik infeksi tunggal maupun gabungan yang disebabkan oleh Ascaris lumbricoides (cacing gelang), Trichuris trichiura (cacing cambuk), Enterobibus vermicularis (cacing kremi), Ankylostoma duodenale (cacing tambang), Taenia (cacing pita), Stronglyodes stercoralis, hingga Necator americanus (cacing tambang).
Dosis:
Ukuran dosis umum untuk kelompok dewasa serta anak di atas usia 2 tahun: 1 tablet (400 mg) yang diminum langsung sebagai dosis tunggal, atau 10 ml sediaan suspensi per hari yang juga dikonsumsi langsung sebagai dosis tunggal.
Cara konsumsi:
Bentuk tablet bisa dikunyah, ditelan secara utuh, atau dihancurkan terlebih dahulu lalu dicampurkan bersama santapan maupun minuman. Tablet sangat disarankan untuk dihancurkan sebelum diberikan kepada anak-anak.
2. Mebendazol (obat bebas terbatas)
Obat ini bekerja dengan skema menghalangi cacing dalam menyerap asupan gula serta nutrisi lainnya, sehingga cacing bakal mati secara bertahap dan terbuang dari dalam tubuh dalam kondisi hancur.
Indikasi:
Diperuntukkan bagi pengobatan cacingan seperti Ascariasis (cacing gelang), Trichuriasis (cacing cambuk), Enterobiosis (cacing kremi), Ankylostomiasis (cacing tambang), Necatoriasis (cacing tambang), serta infeksi campuran dari jenis-jenis cacing tersebut.
Dosis:
Ukuran dosis anak berumur di atas 5 tahun sama dengan dosis dewasa: 1 tablet kunyah 500 mg dosis tunggal, cukup dikonsumsi 1 tablet sekali dalam sehari untuk mengobati salah satu varian cacing atau infeksi kombinasi cacing di atas.
Cara konsumsi:
Obat ini diperbolehkan untuk dikonsumsi tatkala perut belum terisi, tetapi sangat direkomendasikan untuk diminum bersamaan dengan makanan, utamanya santapan yang tinggi kandungan lemak.
3. Pirantel pamoat (obat bebas terbatas)
Obat jenis ini bekerja lewat cara melumpuhkan cacing melalui gangguan pada fungsi sistem saraf serta ototnya, kemudian mengeluarkannya dari dalam tubuh tanpa perlu bantuan obat pencahar.
Indikasi:
Pilihan obat cacing guna menanggulangi Ascaris lumbricoides (cacing gelang), Ancylostoma duodenale (cacing tambang), Necator americanus (cacing tambang), Enterobius vermicularis (cacing kremi), serta Trichostrongylus colubriformis dan orientalis.
Dosis:
Penanganan untuk Ascaris lumbricoides (cacing gelang), Ancylostoma duodenale, Necator americanus (cacing tambang). Takaran dosis: rentang usia 2-6 tahun: 5-10 ml; usia 6-12 tahun: 10-15 ml; usia >12 tahun: 15-20 ml.
Cara konsumsi:
Dapat dikonsumsi sebelum maupun sesudah menyantap makanan.
4. Piperazin (obat bebas terbatas)
Piperazin manjur guna mengatasi masalah infeksi cacing kremi dan cacing gelang. Cara kerjanya yakni dengan melumpuhkan cacing sehingga cacing ikut terbawa keluar saat buang air besar.
Indikasi:
Penanganan infeksi Ascariasis (cacing gelang) dan Enterobiasis (cacing kremi).
Dosis:
Kasus Ascariasis (cacing gelang), dewasa dan anak: 75 mg/kg berat badan (maksimal 3,5 g) diminum sekali sehari, dilakukan selama 2 hari secara berturut-turut. Kasus Enterobiasis (cacing kremi), dewasa dan anak: 65 mg/kg berat badan (maksimal 2,5 g) diminum sekali sehari, dilakukan selama 7 hari berturut-turut.
Cara konsumsi:
Piperazin dapat diminum sebelum atau sesudah makan. Namun, beberapa varian produk menyarankan untuk dikonsumsi usai makan.
5. Levamisol (obat bebas terbatas)
Levamisol ampuh untuk mengobati infeksi akibat cacing gelang. Cara kerjanya yakni dengan merintangi proses pertumbuhan cacing di area usus.
Indikasi:
Penanganan penyakit cacingan yang dipicu oleh Ascaris lumbricoides (cacing gelang).
Dosis: Dewasa: 5-6 tablet untuk sekali minum.
Cara konsumsi:
Levamisol dianjurkan untuk dikonsumsi bersamaan dengan makanan.