Produksi Nikel Vale (INCO) Tumbuh 19 Persen pada Kuartal II/2026

Kamis, 30 Juli 2026 | 22:04:02 WIB
INCO Catat Produksi Nikel Matte Naik 19% Jadi 16.153 Metrik Ton [FOTO: NET].

JAKARTA — PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) mencatatkan pertumbuhan pada performa operasional seiring dengan kenaikan volume produksi nikel perseroan di kuartal II/2026.

Merujuk laporan kinerja operasional dan keuangan kuartal II/2026 perusahaan yang dikutip Rabu (30/7/2026), INCO terdata memproduksi 16.153 metrik ton nikel dalam matte (nickel matte) sepanjang kuartal II/2026. 

Capaian itu terangkat sekitar 19% apabila disandingkan dengan volume produksi kuartal I/2026 yang di angka 13.620 ton.

Lewat tambahan volume tersebut, akumulasi produksi nikel matte pada sepanjang semester I/2026 mencapai 29.773 ton. 

Walau masih lebih rendah dibandingkan torehan semester I/2025 yang menyentuh 35.584 ton, manajemen menegaskan realisasi pada kuartal II/2026 mencerminkan adanya pemulihan performa operasional.

Pihak perusahaan mengutarakan kenaikan secara kuartalan tersebut memperlihatkan kinerja operasional yang makin solid pascaselesainya proyek Pembangunan Kembali Tanur Listrik 3 pada Juni 2026, dengan tetap mempertahankan prioritas utama pada keselamatan kerja dan keandalan operasional.

"Perseroan tetap berada pada jalur yang tepat untuk mencapai target produksi tahunan, serta berada dalam posisi yang baik untuk memanfaatkan fundamental pasar nikel yang kondusif," jelas manajemen INCO dalam keterangan resminya.

Di samping membukukan kenaikan produksi nikel matte, INCO turut melanjutkan transformasi platform ekspansi lewat penggarapan tiga proyek tambang, yakni di Sorowako, Bahodopi, dan Pomalaa. 

Perseroan menilai langkah ekspansi tersebut menjadi pendorong utama peningkatkan volume produksi serta penjualan bijih nikel.

Pada kuartal II/2026, realisasi volume penjualan bijih nikel dari Blok Bahodopi berada pada level 1,07 juta wet metric ton (wmt), meningkat dari 886.000 wmt pada kuartal I/2026. Secara kumulatif, perolehan penjualan semester I/2026 mencapai 1,96 juta wmt.

Sementara itu, volume penjualan bijih nikel dari Blok Pomalaa melonjak ke posisi 495.601 wmt pada kuartal II/2026 dari sebelumnya 89 ribu wmt pada kuartal terdahulu. Dengan demikian, akumulasi penjualan semester I/2026 menembus 584.584 wmt.

Manajemen menilai performa kedua proyek pertumbuhan tersebut membuktikan keberhasilan peningkatkan kapasitas operasional sekaligus memperkuat strategi diversifikasi sumber pendapatan. 

Upaya ini juga dipandang sebagai bagian dari langkah membentuk fondasi operasional yang semakin tangguh demi menopang pertumbuhan jangka panjang.

Pihak perseroan turut menerangkan bahwa konsumsi energi pada kuartal II/2026 bergerak naik seirama dengan bertambahnya produksi nikel matte bila dibandingkan kuartal sebelumnya.

Penyusutan pemakaian High Sulphur Fuel Oil (HSFO) di rentang periode tersebut sebagian besar dapat tertutupi oleh kenaikan volume pemanfaatan batu bara guna menunjang kebutuhan operasional.

Di samping itu, konsumsi diesel juga terdata naik, yang mencerminkan kian bertambahnya aktivitas penambangan pada operasional di Sorowako.

INCO turut menyebutkan bahwa tren harga energi berada pada alur kenaikan, dengan harga HSFO, diesel, dan batu bara masing-masing terangkat sekitar 25%, 40%, serta 12%.

"Kenaikan ini dipengaruhi oleh situasi geopolitik yang berlangsung serta dampaknya terhadap pasar energi global," jelas manajemen INCO.

Terkini