The Fed Tahan Suku Bunga, Rupiah Dibuka Rebound ke Rp18.070 per Dolar

Kamis, 30 Juli 2026 | 21:22:31 WIB
Rupiah Dibuka Menguat ke Rp18.070 usai The Fed Tahan Suku Bunga [FOTO: NET].

JAKARTA — Pergerakan nilai tukar rupiah dibuka menguat 0,02% atau bertambah 3 poin ke posisi Rp18.070 per dolar AS dalam sesi perdagangan Kamis (30/7/2026). Pada saat yang bersamaan, indeks dolar AS (DXY) bergerak menguat 0,02% menuju posisi 100,91.

Pada sesi perdagangan sebelumnya, Rabu (29/7/2026), rupiah mengakhiri perdagangan dengan penguatan 10 poin di level Rp18.073 per dolar AS.

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi memaparkan bahwa dinamika rupiah saat ini dipengaruhi oleh sentimen arah kebijakan moneter The Fed yang diproyeksikan tak bakal mengerek suku bunga dalam Rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) edisi Juli 2026.

Selaras dengan ekspektasi pasar, The Fed mengumumkan untuk mempertahankan suku bunga acuan di rentang 3,50% hingga 3,75% usai melangsungkan pertemuan FOMC selama dua hari.

"Para pedagang mengurangi taruhan kenaikan suku bunga Fed di tengah harapan baru akan diplomasi AS-Iran untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama lima bulan," kata Ibrahim, Rabu (29/7/2026).

Sementara itu dari sentimen dalam negeri, kredibilitas sektor keuangan Indonesia tengah dipertaruhkan. 

Muncul reaksi negatif dari pelaku pasar terhadap rilis hasil survei Indikator Politik Indonesia yang memperlihatkan bahwa tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Prabowo Subianto anjlok drastis ke angka 49,5%.

Angka kepuasan kinerja Prabowo tersebut merosot sekitar 18% dari torehan survei Indikator Politik Indonesia pada April 2026. 

Kala itu, tingkat kepuasan atas kinerja Prabowo menyentuh 68%. Bahkan pada Desember 2025, angka kepuasan terhadap kinerja Prabowo sempat mencapai 81%.

Ibrahim memprediksi pada sesi perdagangan hari ini nilai tukar rupiah bakal bergerak fluktuatif serta ditutup memerah di kisaran Rp18.070 hingga Rp18.130 per dolar AS.

Taksiran tersebut turut disandarkan pada sentimen negatif yang bersumber dari dinamika global. Saat ini, pergerakan pasar bereaksi terhadap konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang kembali menghangat.

Pada eskalasi terkini, tensi hubungan kembali memanas pascamarket sempat menaruh optimisme bahwa dialog diplomasi AS-Iran akan membuahkan progres. Trump, lanjut Ibrahim, menegaskan adanya peluang lapang bagi kemajuan dalam proses dialog bersama Iran.

"Namun pihak Teheran membantah adanya niat untuk melakukan negosiasi ataupun gencatan senjata," tandasnya.

Terkini